Analisis Teologis terhadap Ritus Famazawa Ana’a di Desa Hilizoroilawa, Kabupaten Nias Selatan

Main Article Content

Lestari Loi

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna ritus Famazawa Ana’a pada masyarakat Desa Hilizoroilawa, Kabupaten Nias Selatan, serta mendialogkannya dengan perspektif Teologi Perjanjian Lama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dengan melibatkan sembilan informan yang memahami dan terlibat dalam pelaksanaan ritus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Famazawa Ana’a dimaknai sebagai bentuk sumange atau penghormatan, sarana memperkuat famöbö fa’iwasa atau ikatan kekerabatan, serta media pewarisan ondröita hada kepada generasi berikutnya. Ana’a memiliki fungsi simbolik sebagai ekspresi penghormatan, tetapi dalam praktiknya dapat mengalami pergeseran menjadi ukuran status dan kemampuan ekonomi. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan sira'u atau rasa malu serta beban finansial bagi keluarga berduka, terutama dalam mekanisme fangasi. Dialog dengan konsep imago Dei, kesetaraan manusia di hadapan Allah, dan go'el menunjukkan bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh kepemilikan material, sedangkan penebusan semestinya berorientasi pada pemulihan. Penelitian menghasilkan kerangka Teologi Penghormatan dan Pemulihan, yang menempatkan martabat sebagai dasar penghormatan, kekerabatan sebagai ruang solidaritas, ana’a sebagai simbol dan bukan ukuran martabat, serta fangasi sebagai praktik yang perlu diarahkan pada pemulihan. Temuan menegaskan bahwa transformasi teologis tidak menghapus adat, tetapi memurnikan maknanya agar memperkuat solidaritas, kesetaraan, dan kesejahteraan keluarga berduka. 

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles