Teologi Perdamaian Berdasarkan Kolose 3:15(Kajian Konflik Parrajaon dan STM di Desa Lobu Pining)
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika konflik antara Parrajaon dan Serikat Tolong Menolong (STM) di Desa Lobu Pining serta merumuskan teologi perdamaian berdasarkan Kolose 3:15 dalam dialog dengan nilai-nilai Dalihan Na Tolu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan unsur pemerintah desa, Raja Huta, pendeta, serta masyarakat dari kelompok Parrajaon dan STM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik yang bermula dari persoalan tanah dan otoritas adat berkembang menjadi fragmentasi sosial yang memengaruhi hubungan kekeluargaan, kehidupan adat, dan persekutuan gerejawi. Lemahnya komunikasi, luka batin, kepentingan kelompok, dan ketidakpercayaan menjadi faktor yang mempertahankan konflik. Analisis terhadap Kolose 3:15 menunjukkan bahwa damai Kristus melalui konsep βραβεύω (brabeuō) tidak hanya menunjuk pada ketenangan batin, tetapi berfungsi sebagai “wasit” yang mengarahkan sikap, keputusan, dan relasi komunitas menuju rekonsiliasi. Penelitian ini menghasilkan konstruksi Teologi Perdamaian Dalihan Na Tolu-Brabeuō, yang mengintegrasikan somba marhula-hula sebagai kerendahan hati dan penghormatan, manat mardongan tubu sebagai komitmen memulihkan persaudaraan, serta elek marboru sebagai kasih yang merekatkan relasi. Seluruh nilai tersebut ditempatkan di bawah pemerintahan damai Kristus. Temuan menegaskan bahwa rekonsiliasi membutuhkan dialog, pengakuan kesalahan, pengampunan, penerimaan kembali, dan keterlibatan gereja sebagai mediator untuk memulihkan keluarga, persekutuan, dan kesatuan komunitas.
Downloads
Article Details
Issue
Section

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
References
Christian, R. (2016). Memikirkan ulang peran youth pastor sebagai pembuat murid dalam pelayanan kaum muda. Jurnal Youth Ministry, 4(1), 25–35. https://doi.org/10.47901/jym.v4i1.440
Christopher, R., Jonathans, K. R., & Nugroho, A. E. (2026). Leadership through example: Reconstructing the Timothy model for fostering spiritual maturity in Generation Z at GBI Light of City. TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, 6(1). https://doi.org/10.53674/teleios.v6i1.302
Febri, H. (2024). Peran gembala dalam membentuk karakter spiritualitas remaja Kristen. Jurnal Budi Pekerti Agama Kristen dan Katolik, 2(3), 17–34. https://doi.org/10.61132/jbpakk.v2i3.564
Gultom, Y. X., & Gultom, J. (2025). Building youth faith in the digital era: A case study at the Protestant Batak Christian Church Napitupulu. MARSAHALA: Journal of Religious and Cultural Studies, 1(2). https://doi.org/10.64099/50fqx248
Kagwiria, D., Bururia, D. N., & Mathai, L. M. (2023). Evaluating the effectiveness of youth programs offered by the youth ministry department in character formation in Methodist Church in Kenya, Kaaga Synod. Journal of Pastoral and Practical Theology, 2(1). https://doi.org/10.51317/jppt.v2i1.390
Katili, F. (2024). Faith in the digital age: Factors influencing social media use among Indonesian churches. Jurnal Teologi Cultivation, 8(2), 450–461. https://doi.org/10.46965/jtc.v8i2.2714
Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.
Tambunan, D. P., & Siagian, R. J. (2026). Contextual theology in the digital age: Challenges and opportunities for teenagers and young adults of the HKBP Silalahi Church. RERUM: Journal of Biblical Practice, 6(1), 130–148. https://doi.org/10.55076/rerum.v6i1.591
Zega, Y. K. (2021). Mentorship gereja dalam membentuk karakter remaja di BNKP Jemaat Hiliomasio Medan. Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral, 2(2), 136–155. https://doi.org/10.46408/vxd.v2i2.41