Hubungan Pola Asuh Orang tua Dengan Kemampuan Berbahasa Pada Anak Usia 4-5 Tahun di TK Negeri Pembina Tarutung

Main Article Content

Lidia Wiliyani
Uranus Zamili

Abstract

Anak usia dini (0–6 tahun) berada pada fase perkembangan yang amat pesat di berbagai aspek kehidupan, yang kerap diistilahkan oleh Maria Montessori sebagai the golden age atau masa emas. Pada rentang usia ini, anak memiliki daya serap tinggi terhadap rangsangan dan pengalaman di lingkungannya. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak, di mana interaksi awal bersama orang tua membentuk dasar karakter, perilaku, serta kemampuan berbahasa. Orang tua yang memberikan stimulasi verbal intensif, mendengarkan, serta memberi kesempatan berbicara akan memperkaya kosakata, melatih kelancaran menyusun kalimat, dan meningkatkan keberanian anak mengekspresikan diri. Bahasa merupakan sarana komunikasi fundamental untuk mengubah pikiran dan perasaan ke dalam bentuk simbol yang dapat dipahami orang lain. Perkembangan bahasa mencakup aspek reseptif (memahami) dan ekspresif (mengungkapkan). Lev Vygotsky mengemukakan bahwa perkembangan bahasa anak bertumpu pada interaksi sosial, sedangkan Jean Piaget menyoroti keterkaitannya dengan perkembangan kognitif. Dalam lingkungan keluarga, pola asuh orang tua menjadi faktor kunci yang membentuk iklim interaksi verbal. Baumrind mengklasifikasikan pola asuh menjadi empat tipe utama: otoritatif (demokratis), otoriter, permisif, dan mengabaikan (neglectful). Pola asuh demokratis yang hangat, terbuka, dan komunikatif terbukti menciptakan ruang ekspresi bahasa yang optimal dibanding gaya otoriter yang kaku atau permisif yang minim batasan. Meskipun secara teoritis pola asuh dianggap sebagai prediktor utama perkembangan bahasa anak, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang beragam. Penggunaan perangkat elektronik (gadget) tanpa pendampingan serta pergeseran pola interaksi keluarga dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas komunikasi verbal harian. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris gambaran penerapan pola asuh orang tua, tingkat kemampuan berbahasa anak usia 4–5 tahun, serta hubungan antara kedua variabel tersebut di TK Negeri Pembina Tarutung Tahun Pembelajaran 2025/2026.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

References

Alkitab. Lembaga Alkitab Indonesia. 2015.

Alya, N., Azia, A. N., Hidayah, U. N., Alisia, N., Kartika, N. A., & Latief, F. (2025). Pemanfaatan Video Animasi Edukatif dalam Stimulasi Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini. Jambura Early Childhood Education Journal, 7(1), 39-52.

Anidi, A., Arung, F., Parisu, C. Z. L., & Juwairiyah, A. (2025). Peran Orang Tua dalam Stimulasi Perkembangan Bahasa Anak Usia 3–5 Tahun. Jurnal E-MAS (Edukasi dan Pembelajaran Anak Usia Dini), 1(1), 62-72.

Fono, Yasinta Maria, Efrida Ita, and Veronika Owa Mere. "Stimulasi kemampuan bahasa anak usia 4–6 tahun melalui pola asuh orang tua." Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 7.4 (2023): 4305-4315.

Hoff, E. (2006). Language development. Wadsworth.

Hoff, E. (2014). Language development (5th ed.). Wadsworth Cengage Learning.

Laili, Z., & Lestari, I. (2025). Perkembangan bahasa anak berdasarkan teori Jean Piaget pada siswa kelas 1 MI Muslimat NU Demak. Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, 11(4), 211–228.

Rowe, M. L. (2012). A longitudinal investigation of the role of quantity and quality of child-directed speech in vocabulary development. Child Development, 83(5), 1762–1774.

Sadiq, S. (2024). Parenting style and language development. Pakistan Journal of Humanities and Social Sciences, 12(2), 250–261.

Susanto, A. (2011). Perkembangan anak usia dini: Pengantar dalam berbagai aspeknya. Kencana Prenadamedia Group.

Ulfah, D., & Umiasih, E. (2021). Stimulasi keterampilan bahasa reseptif anak melalui kegiatan mendengarkan cerita di TK Miftahul Ulum Pandawangi Malang. Tematik, 7(2), 62-70.